Kriteria Muslimah Sejati

MUSLIMAH YANG CANTIK,
tidak dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona, tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya.

MUSLIMAH YANG SANTUN,
tidak dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatanya. . . . .

MUSLIMAH YANG BERANI,
tidak dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan, tetapi, kekhawatiran akan dirinya yang membuat orang tergoda.

MUSLIMAH YANG CERDAS,
tidak dilihat dari keahliannya berbicara, tetapi dari bagaimana cara DIA berbicara.
Continue reading

Cerpen “Papa Baca Keras-Keras Ya Pa, Supaya Jessica Bisa Denger”

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica,

Pa liat!” Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi “Wah,. buku baru ya Jes?”, “Ya papa” Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. “Bacain Jessi dong Pa” pinta Jessica lembut, “Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.

Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu “pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi” Budi mulai agak kesal, “Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya”“Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu”, “Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan” Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. “Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka”, “Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!” Continue reading

Tentang Ibu

Dia….
Saat daun berguguran, engkau tak bisa berteduh,
Namun, dia datang sebagai awan, memayungi penatmu
Dia juga mengirim kehangatan, memangkas gigil di beranda harimu
Dia tak sempurna
Sungguh, tak cemerlang dalam prestasi
Sekali lagi, ia tak sempurna
Sungguh, teramat kaku mengucap bait cinta
Namun, ia berbahasa lewat buli-bulir bening itu
Setiap sujudnya bermakna kasih
Dalam setiap bulir letihnya,
ia merangkai cinta untukmu, Continue reading

Surat dari Ibu

Anaku….
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami..

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu… Continue reading

Surat Buat Bunda

***Nanda Mengenangmu…***

Kadang hari hari ini jadi terasa demikian melelahkan , bunda….
Ruang menuju-mu tiba tiba saja terasa luas dan jauh.. Ingin nanda ceritakan tentang sayap sayap yang tak henti belajar terbang, mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang..
Ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angina dan warna pucuk pucuk hijau…
Mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan, berharap bias menghapus letih kening dan sudut mata bunda.

Sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai, tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang…

Kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus bunda… Continue reading

Cerpen “Takkan Berakhir”

Aku kehilangan….
Sosok sahabat yang mampu membawaku memetik harapan di kilauan bintang-gemintang telah pergi dan tak kan kembali. Aku bertanya pada matahari pagi, ke mana sahabatku? Aku juga mencoba mencari jejak nafasnya di tetes embun pagi. Namun, aku tetap tak mendapatkan jawaban apa-apa. Aku kehilangan. Ia yang baru kemarin masih tersenyum padaku telah pergi membawa sisa kenangan. Anti, sahabatku yang periang, sehari tanpa kehadiranmu menggores siluet luka dan kesunyian di tiap detak jantungku. Anti, mengapa kau harus pergi tanpa pamit?
Anti selalu membagi hari-harinya yang ceria bersamaku. Ia selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Ia menerimaku sebagai sahabat dengan segala kekurangan yang aku miliki. Bersamanya aku tenang. Bersamanya aku merasa berarti. Cukup hanya dengan bersamanya, aku merasa tak butuh sahabat yang lain. Continue reading

Cerpen “Gadis Kecil yang Tengah Mengeja Bahagia”

Aku mengenal seorang gadis kecil bernama Tati. Ia baru berumur 9 tahun. Namun, dalam umur yang masih begitu belia, ia harus hidup tanpa ayah, di rumah yang hanya berukuran 4 x 6 meter, bersama seorang ibu yang sangat kuat menjalani kehidupannya dan seorang kakak perempuan dengan keadaan mental yang terbelakang. Tati, tetangga kecilku, menjalani harinya dengan mata yang selalu memancarkan harapan. Aku sangat betah memandang mata gadis kecil itu. Matanya penuh semangat meskipun ayahnya tak kunjung memberi kabar sejak keberangkatannya ke luar negeri untuk mengais rezeki 7 tahun silam. Oh ya, aku ingat, ayah Tati pernah pulang sekali, saat Tati berumur 6 tahun. Namun hanya satu minggu. Cukup bagi Tati untuk sekedar mengetahui seperti apa sosok ayahnya yang sampai sekarang belum juga mengirimkan kabar, apalagi uang. Dia meninggalkan keluarga kecilnya dengan sebuah janji,
“Setiap Tati ulang tahun, ayah pasti ngirimin kado.”
Jadilah setiap bilangan umurnya bertambah, pagi-pagi sekali, Tati pasti akan menemuiku untuk meminta hadiah, sekaligus menanyakan, adakah kiriman kado yang datang dari Arab Saudi untuknya. Kasihan gadis malang itu. Continue reading