CERITA SEMALAM

Dinda sayang…
Kuawali malam ini dengan tinta menulis namamu, lalu kuhamburkan kata – kata dengan segenap puji dan puncak kekagumanku untukmu, dari segala pesona dan Kharisma-mu yang membungakan segala pengakuan padamu. Cintaku mengalir begitu deras dan telah membanjiri jiwaku hingga yang terapung disana adalah berjuta – juta rindu dengan dasarnya adalah perasaan sayangku nan kian indah berdanau – danau melebihi danau toba.

Aku bahkan tidak butuh mimpi karena sibuk berimajinasi, sketsa-mu bergaris – garis dan membentuk halte bianglala di sangga langit hidupku. Benar – benar kegilaan nan merona seperti pula rona pipimu yang selalu kukecup dengan malam dan gairah lampuku. Cintaku berbinar – binary seperti pula bola matamu yang selalu menatapku dibawah purnama. Dan percayakah engkau ?? malam ini bahkan hendak mengakhirkan tanggal karena benar – benar larut, tapi aku masih sibuk sendiri membayangkan-mu lalu kutuangkan kembali ke dalam goresan – goresan kliseku ini.
Aku tak membutuhkan aturan kata karena aku bukan Kahlil Gibran atau Chairil Anwar yang pintar. Tapi yang penting malam ini adalah milik bayanganmu yang membuatku terpaksa untuk mempuitiskan kata meski berklise – klise.
Dinda sayang…
Tanggal berakhir dan waktu hendak memula-kan tanggal baru pada pukul 00.00. Anehnya,,,, aku masih saja sibuk mendefinisikan segala kata untukmu, berhamburan ke pojok kamar kost-ku, berlari lari ke segala penjuru perawan malam yang mencekam, bahkan berhasil menghalau dingin hingga aku tidak membutuhkan baju malam ini untuk melindungi kulit kasarku ini. Dan ayam jantan berkokok peduli barangkali sekedar mengingatkan aku bahwa tidak baik bagi kesehatan untuk terus berjaga seperti ini, tapi toh bayanganmu bukanlah dokter yang akan melarangku ini dan itu. Bahkan ia terus menyuruhku mengeluarkan elegi rindu yang tak berkasta ini hingga tanganku terus menerus tidak lelah menggerogoti tinta pena bolpoinku ini, karena memang waktu yang gelap dan senyap seperti saat ini mengejar – ngejarku hingga kakiku diborgol oleh rantai – rantai akbar perasaanku sendiri. Semuanya disebabkan oleh dirimu dan cintaku, membuatku tak lebih seperti seekor pungguk yang merindukan bulan tanpa mengenal waktu.
Dinda sayang…
Aku masih menulis untukmu. Jam berdetak melaju dan telah dini hari bayanganmu menjadi temanku. Aku tidak kehabisan kata karena kau air, mengalir tak kunjung kering. Aku melukismu dengan kata, segala rupa-mu ku noktahkan meski sulit terlaksana. Aku juga mengenang hari dimana kita pernah terbang bersama dengan sayap – sayap yang kita pinjam di Hera, saat itu kita baru saja belajar memahami kepakan sayap kita masing masing. Kita ternyata terlalu cepat lelah dan itu artinya kita masih perlu waktu yang lebih panjang lagi untuk terus belajar terbang bersama.
Saking lelahnya, nafas kita pun hampir sirna seandainya saja realita tak sudi menyisakan oksigen warna untuk kita minta. Dan kau tau??? Rasanya saat itu aku seperti disulut bara – bara jahannam. Seandainya aku tidak mencintaimu maka mungkin oksigen itu telah kurampas darimu. Tapi ternyata aku memang benar – benar mencintamu dan tak ingin menyakitimu atau pun melukaimu.
Aku masih terus mengenangmu…. Saat dengan tiba – tiba saja aku dikagetkan lagu Tuhan untuk semua muslim yang kita juga diwajibkan , subuh ternyata tidak aku sadari telah singgah di malam ini aat aku mulai menulis smuanya untukmu. Tapi aku benar – benar tak peduli, meski telah ada yang mulai singgah dimataku, kuusir jua karena aku tau bahwa aku hanya membutuhkan bayanganmu untuk menari bersamaku. Suara kokok ayam mulai meramaikan kesendirianku, ditingkahi burung kepodang emas yang mencumbu fajar yang baru turun dari kaki langit. Tapi aku tidak bosan – bosan membayangkanmu di kamarku ini. Jasadku mulai lusuh dan disekap kerinduan. “Dimana mata-mu yang indah itu ?” mungkin masih di pintu menjagaku atau telah terbang mengikuti angin pagi yang membuat gerutu petani – petani, disini aku terus menjadi milik bayanganmu, tak ada jenuh jua yang bisa maembuatku mengakhirkanmu di sudut pena-ku.
Dinda sayang…
Matahari mulai tersenyum, lewat jendela ia menyapa-ku “selamat pagi”…, dan tangan – tangan lembutmu terasa meraba pelan. Kau kah itu ??? bukan…. !!
Kau menjelma matahari dan nuansa terang ini adalah cuaca-mu, aku kian sibuk mencari kata yang pernah kuselipkan di rambut indahmu.
Aku telah berhasil melewatkan malam (12 jam) yang gelap tadi dengan bayanganmu dan cinta, kini telah berteluk – teluk perasaanku sendiri menjadi bagian samudera-mu..
Bukankah itu bukti bahwa aku tidak ingin melupakanmu ???
Dan kini buana benderang, tidak ada yang bisa menghalangiku melukismu meski perutku menangis dan mataku terlalu berat.
Bukankah ini ilham untukmu tentang aku yang mencintamu…?
Suara detak jam dinding itu tak lagi terdengar jelas karena dihalau oleh suara burung dan teriakan anak – anak kecil yang bermain main dengan kebahagiaan hidup yang mungkin akan menipu mereka. Tapi aku tetap sibuk meski matahari mulai gerah, tangannya yang panas mengkilatkan atap kostku. Burung mulai berteduh dan para petani mulai jeda. Akhirnya tepat pukul 12.00 bayanganmu mengajakku kedalam mimpi meninggalkan pena yang penat dan perut yang menggerutu. Kamarku kembali lengang dan aku pulas di ujung mimpi gagu.
“Telah 24 jam kau menawanku dan aku tidak mengeluh karena aku sangat membutuhkanmu sepenuhnya….”

Note : Thanks to Anggie “My Inspiration”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s