Catatan untuk Negeri yang Koyak

Di sini, kami berduka karena tak mampu membeli ayam goreng
Anak-anak kami memperebutkan boneka barby
Para gadis sibuk menarik perhatian lelaki
Kami menangisi derita dan air matamu yang diekspose media
Kami terpaku di depan layar kaca saat penyerbuanmu ditayangkan
Tapi dalam doa, kami lupa, sempatkah kami sekedar mengingat dan menyebut namamu?
Pernahkah kami meminta ketenangan untuk negerimu?
Ah, sesudah air mata ini gelak tawa menghapus segala empati itu
Kami bahkan lupa bahwa sekantong beras yang kami buang di sini,
Menjadi tangis bagi kalian yang merindukan sesendok nasi

Bagaimana kabarmu kini?
Negerimu yang konon begitu menggiurkan itu terkoyak, kudengar
Telah berabad air mata tak lagi bening, ia mengental bagai darah
Tapi yang kutahu, sudut harimu yang mencekam menjanjikan keindahan syurga
Sebab, kau terjaga untuk bertahan, kau siaga untuk melawan, kau tak rela menghamba, kecuali memekikkan perjuangan lewat kepalan dan batu-batu takbir itu

Negerimu koyakkah sobat?
Kami di sini sibuk dengan tikus-tikus nakal yang menggerogoti lumbungnya sendiri
Kami menghujani hari dengan setumpuk gonggong penindasan
Negeri kami juga menggiurkan,
Itu sebabnya orang-orang di lantai dua menggaduhi penghuni lantai satu
Kami bersedih saat hujan datang, sebab itu pertanda bahwa bedak-bedak kami akan luntur
Kami juga meraung saat terik menyengat dan mengguyur bumi kami yang di dalamnya gersang, sebab itu berarti keringat akan membasahi baju kami yang mahal

Wahai saudaraku yang kudengar terkoyak negerinya
Jutaan warga kami menangisi nestapamu, menghujat orang-orang yang mengoyak hari-hari tenangmu, berlomba menceritakan pedihmu untuk mengemis empati
Tapi, sekali lagi, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, kesibukan mengais sampah lebih menggiurkan bagi kami
Makanan kami adalah bangkai-bangkai pemerintah yang menghisap darah-darah kami, menguliti hak-hak kami dan merobek persendian hidup kami
Nanar harimu, namun kulihat pendar pengharapanmu tak jua melapuk
Aku melihat keyakinan itu di kencana tuturmu, yakinmu akan kehidupan mahaindah yang Ia siapkan bagi pengharapanmu yang tiada memupus itu

Kau tahu saudaraku, letihnya aku menulis catatan ini
Seletih pikirku yang tak pernah sampai pada sebuah jawaban, mengapa negerimu koyak tak berkesudahan, sementara mereka yang merampas sisa senyummu tak jua mendapatkan apa-apa
Lalu, kapan mereka akan berhenti?

Karya : “Desi Luthfiana

5 thoughts on “Catatan untuk Negeri yang Koyak

  1. desi says:

    terima kasih……. ^_^
    senang sekali jika apa yang saya tulis bisa diapresiasi…… terima kasih juga karena tulisan saya diberikan ruang di blog ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s