Cerpen “Bidadari Depan Rumah”

***April 2000
Aku adalah setangkai kesendirian dan kebisuan yang mendekam dalam gerimis kepahitan dan pekat air mata. Setiap hari, yang kudapati hanya sepi. Tiada teman berbagi, kecuali tumpukan kertas dan kesibukan di kantor. Semua derita dan ceria harus aku lewati sendiri. Tak ada pilihan lain, kecuali hanyut dan sendiri dalam sepi yang mencekam. Hanya satu yang mampu mengobati sedikit sepiku, bunda.
Senyap ini membuahkan bosan dan muak. Aku merindukan keramaian yang teduh dan kebersamaan yang hangat nan ceria, bukan gelak tawa tak berarti dan kebersamaan sebatas ikatan kerja yang disuguhkan kantor tempatku bekerja. Tinggal di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan kebisingan kota tetap tak membuat kelengangan ini berubah menjadi keramaian yang berarti. Bunda, hanya engkaulah pengobat lelah, penat, haus dan lapar saat aku pulang kerja. Bunda, hanya padamulah kutumpahkan duka dan bahagiaku selepas “curhat”ku padaNya..

***April 2001
Setahun berlalu tanpa kesan ataupun perubahan berarti. Masih dengan aku dan bunda serta hari yang dipenuhi kesepian dan kepenatan. Hari ini, aku kembali bernostalgia dengan derai air mata yang sama. Bulan purnama itu telah pergi. Siang dan malam telah tergantikan selama berpuluh pekan. Namun, di sini aku, masih tetap dengan keadaan yang belum juga berubah. Masih dengan predikat yang sama seperti April tahun lalu : SINGLE!
Begitu banyak yang telah menawarkan cinta dan kasih sayang. Namun, aku tetap bergeming. Sebab, cinta yang kuinginkan tak dapat kutemukan pada sosok-sosok yang telah ada. Aku ingin terus bertahan dan menunggu di sini, mungkin. Sampai cinta itu benar-benar datang. Semoga
Kalau dipikir-pikir, perjalanan hidup yang kutempuh sudah cukup panjang. Umurku sudah beranjak 25 tahun. Sudah tiba waktunya mencari pendamping. Paling tidak calon istri. Bunda selalu resah melihatku yang belum juga mau membawakannya seorang calon menantu. Mau bagaimana lagi, aku memang belum menemukan bidadari yang selama ini aku cari. Tepatnya, aku sebenarnya memang belum mencari.
Aku adalah Putra, anak tunggal dari Anggraeni dan Saifullah (almarhum). Ayah sudah lama meninggal, tepatnya saat aku berusia 17 tahun. Walaupun usiaku masih terbilang cukup muda, terutama untuk menikah, bunda tetap ngotot mencarikan jodoh karena kepasifanku. Bunda merasa kesepian di rumah setiap aku berangkat kerja. Ia ingin ada seorang wanita yang bisa menemaninya mengobrol, berbelanja, masak, jalan-jalan, dan memberikannya sosok mungil yang tangisnya dapat memecah sunyi di rumah kami.
“ Putra, kamu anak bunda satu-satunya. Kepada siapa lagi bunda akan meminta menantu dan cucu kalau bukan sama kamu, Nak.”
“Putra kan masih muda, bunda. Umur Putra baru 25 tahun. Putra belum siap berumah tangga, apalagi jadi seorang ayah.”
“Nikah muda kan nggak ada salahnya. Apa kamu nggak kasihan sama Bunda? Tiap hari, setelah ditinggal kerja kamu, Bunda kesepian di rumah. Apalagi yang jadi beban pikiranmu, Nak? Umur sudah pantas. Kerjaan sudah ada, sudah mapan. Kalau sudah mampu, hukumnya wajib lho Nak. Jangan ditunda-tunda, ntar jatuhnya dosa.”

Jika bunda sudah berkata begitu, aku tak bisa meneruskan percakapan. Aku takut langsung membantah atau menolak. Takut bunda semakin kecewa. Mungkin karena aku diamlah, bunda terus menyodorkan calon istri. Sebenarnya, aku masih mampu mencari sendiri. Namun, hati ini memang masih enggan mencari, apalagi untuk berumah tangga. Sebab utamanya adalah, cinta itu belum menghampiriku. Cinta itu tak bisa kutemukan pada sosok-sosok yang kukenal dan diperkenalkan bunda.
Kasihan bunda. Semua yang ia calonkan kutolak dengan berbagai macam alasan. Aku sengaja mencari kekurangan dan kelemahan mereka sebagai alasan untuk menolak. Memang sangat tidak adil. Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelemahan masing-masing. Tak ada yang sempurna. Pun dengan diriku. Kasihan juga gadis-gadis itu. Putra kejam, sok selektif, terlalu idealis, sok jual mahal. Itulah komentar pedas mereka untukku. Cukup menusuk hati, tapi inilah konsekuensi yang harus kuterima. Aku sungguh tak sanggup setiap kali melihat sorot kekecewaan dan kesedihan di mata bunda. Tapi, aku akan lebih menyesal jika itu terjadi kelak, saat aku telah menikah dan menjatuhkan pilihan pada wanita yang salah. Bunda, maafkan Putra.

***April 2002
Allah telah mendatangkannya. Cinta yang dulu kunanti kini menghiasi hari-hariku, mewarnai setiap langkahku dengan pelangi yang ceria. Hadirnya menjadi tamu istimewa sekaligus kado terindah di ulang tahunku yang ke-26. Semoga hadirnya mampu mengusir sepi bunda. Semoga hadirnya benar-benar membuatku tak terus menanti cinta dalam diam dan kesendirian.
Ya Allah, kubingkai hati ini dalam sebuah permohonan. Hamba sadar, hamba berdosa. Hamba tahu, diri ini begitu kecil dan hina di hadapanMu. Namun, jika masih ada celah untuk meminta padaMu, Dzat yang Maha Memberi, maka pintaku : izinkan hamba membahagiakan bunda, satu-satunya hartaku yang paling berharga setelah iman di hati ini. Izinkan hamba mewujudkan ceria di bening mata bunda yang penuh kerinduan pada tangis sang mungil. Persatukanlah hamba dengan sang cinta yang baru sepekan ini hadir, jika ia yang terbaik untuk agamaku, dan bundaku. Hamba siap mempersuntingnya dan melewati hari yang sakral bersamanya. Sekali lagi ya Allah, hanya ridhaMu yang dapat menyatukan hamba dengan ia yang pertama mengisi hati ini dengan cinta. Amin…
Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Aku terpana dan luluh seketika, saat pandangan pertama dengan gadis seberang, bidadari depan rumah, yang tinggal beberapa meter dari halaman depan rumah. Sejak saat itu, cinta hadir, menyusup dalam hati. Ia datang untuk menemani Putra yang selama ini tersudut dalam kesendirian. Cinta ini menjadi keluarga yang membawa keindahan dalam senyapku. Cinta yang dibawa dinda telah menghapus pekat air mataku. Lantas, menguburnya jauh ke dasar masa lalu.

***Mei 2002
Namanya Erli… Ia gadis yang cantik, anggun, cerdas dan sederhana. Baru sebulan tinggal di sini, dia telah berhasil menyita dan menyedot perhatian warga. Dia adalah sarjana Pendidikan Fisika. Lulus dengan predikat cum laude dari salah satu universitas negeri ternama. Ia pindah ke sini karena SK mengajarnya memang di SMA yang berjarak 1 kilometer dari kompleks rumah ini. Sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri yang terbilang cukup elite. Murid-muridnya yang kebetulan tinggal di kompleks inilah yang mengharumkan namanya. Murid-murid itu sangat memuja dan menghormati Erli sebagai seorang guru baru yang cerdas dan salihah.
Perfect! Calon istri idaman. Seorang aktivis dakwah kampus. Juga kini menjadi aktivis dakwah di kompleks ini. Aku tertegun dan terpana dengan kecerdasan dan ketangkasannya saat mengajukan usul pembuatan sekat antara ikhwan dan akwat setiap rapat remaja masjid, atau usulnya untuk menghidupkan kembali majelis taklim para ibu rumah tangga yang sempat terhenti setahun belakangan ini. Ya Allah, mungkinkah dia adalah jawaban atas doaku dan doa Bunda selama ini?

***Juni 2002
Sebulan, dua bulan, berlalu dengan bayang-bayang cinta. Ya, hanya bayang-bayang cinta. Aku hanya bisa memandang dan mengagumi dindaku dari jarak jauh. Sebab, setiap kudekati, ia selalu menghindar. Setiap bertemu, ia selalu menunduk. Bahkan, saat aku tersenyum padanya, ia tak membalas senyumku. Ia hanya tertunduk. Tak sukakah ia padaku? Jika begini terus, bagaimana caranya agar aku dapat mengungkapkan rasa dan asa ini? Bingung!
Bagaimanapun ini, cinta yang lahir dari pertemuanku yang pertama dengan sang dinda telah membawa perubahan besar. Putra yang dulu tersudut dalam celah sepi dan kedukaan telah menjelma Putra yang ceria. Ia dindaku, bidadari hatiku yang kehadirannya telah mampu menghapus goresan luka akibat kesendirian yang panjang dan penantian yang hampir tak berujung. Walau ia tak di sampingku, namun bayang senyum teduhnya, kalemnya, dan tubuh rampingnya yang selalu terbalut pakaian muslimah selalu menjadi irama dan melodi di denting hari yang kulalui.
Bidadari itu adalah penghias taman depan rumah. Ia menjadi satu bunga tercantik di antara bunga-bunga yang tumbuh di taman itu. Ia memperkenalkan diri dengan seulas senyum indah yang langsung menggetarkan hati dengan sinyal-sinyal kekaguman yang begitu cepat merambat menjadi getar cinta. Orang menyebutnya love at the first sight. Suara lembut sang dinda melumpuhkan kekosongan batin ini.
Tanpa jabat tangan, Erli mampu menyentuh jiwa yang gersang. Indah tutur katanya menyiram tandusnya hati yang lama haus akan cinta. Ya Allah, bidadari berjilbab itu adalah cinta yang selama ini aku cari. Setelah sekian lama mengharap dan kini akhirnya kutemukan, mohon jangan Kau pisahkan aku dengannya. Izinkanlah aku membawanya sebagai penyejuk rumah dan cahaya bagi bunda. Izinkan aku menjadikannya pelipur lara, teman hidup yang akan selalu mendampingi di setiap keremangan hidup ini.

***Desember 2002
Tahun akan segera berganti. Bulan demi bulan yang telah kulewati tetap tak menyisakan harapan yang berarti. Aku masih diselimuti bayang-bayang cinta. Antara harapan dan keputusasaan datang silih berganti di setiap jejak nafas yang kususuri.
Cinta memang telah datang. Bahkan, ia sangat dekat dengan raga ini. Tapi penantian ternyata masih terus berlanjut. Penantian akan sebuah ikatan yang masih tak tentu arah dan tujuannya. Ternyata, perjalanan cintaku belum menemukan muaranya. Asa itu masih berlabuh dan terombang-ambing dalam kekalutan.
Bunda. Sepertinya bunda telah mengerti apa yang kini bergejolak di hatiku. Tapi mengapa Erli tidak? Ataukah ia sebenarnya telah mengerti tapi sengaja menghindar dan berpura-pura bahwa semuanya biasa-biasa saja, padahal jauh di lubuk hatiku dan jauh di dasar jiwaku, nama Erli telah terpahat dan terukir begitu indah.

******
Minggu pagi di akhir Desember 2002 terasa semakin menekan rongga dada. Batin terus melonjak, memaksa raga bertindak, menunaikan niat yang terpendam, paling tidak lewat untaian kata-kata. Tepatnya, nurani menyuruhku menyampaikan kepada bunda, masalah yang selama ini membuatku gundah. Mungkin, sarapan pagi ini merupakan moment yang tepat untuk meminta bunda agar segera melamar Erli untukku.
Terlalu cepatkah aku mengambil keputusan untuk segera melamar bidadari depan rumah itu? Rasanya tidak. Aku kenal Erli sejak 8 bulan yang lalu. Waktu yang cukup untuk mengenal lebih dekat kepribadian seseorang. Walaupun kami tidak selalu bersama dan saling mengisi hari dengan kebersamaan, mengenalnya dari jauh cukup bagiku. Ia wanita yang taat beragama, itu yang terpenting bagiku. Dia cantik, pandai menjaga pergaulan, terutama dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, dia juga rajin, ramah kepada bunda dan semua wanita di kompleks ini. Untuk yang terakhir ini, bunda sependapat denganku. Saat kami mengobrol, sesekali bunda menyebut nama Erli dan memuji gadis itu. Bismillahirrahmanirrahim. Semoga bantuan bunda mampu mengakhiri penantian ini.
Sarapan yang kunanti sejak 20 menit yang lalu, kini tiba. Bunda mondar-mandir dari dapur ke ruang makan dan sebaliknya. Membantu Bik Rat menghidangkan sarapan. Aku hanya duduk, tak membantu seperti biasanya. Sibuk mempersiapkan dan memilah-milah kata yang cocok untuk memulai pembicaraan dengan bunda dan mengarahkannya ke tujuan utama.
“Ehm… Ehm… ,” aku berdehem saat kami baru memulai sarapan. Perbuatan kuno dan konyol yang segera kusesali beberapa detik kemudian.
“Bunda, “
“Bicaranya nanti saja, Nak. Selesaikan dulu makannya. Nggak baik makan sambil bicara. Ntar tersedak,” Bunda memotong pembicaraanku dengan halus. Aku menurut saja. Aku memang salah, dan bunda benar. Kami melanjutkan sarapan dengan suasana yang benar-benar hening. Yang terdengar hanya suara sendok beradu dengan piring atau suara batukku maupun batuk bunda yang sesekali bersamaan merebut waktu.
Selesai makan, bunda langsung mengajakku ke ruang tengah. Beliau tidak membantu Bik Rat membereskan meja makan seperti biasanya. Mungkin naluri keibuannya mampu merasakan bahwa ada hal penting yang ingin disampaikan anaknya.
“Apa yang tadi mau kamu katakan, Nak?” Bunda langsung memulai pembicaraan saat kami sudah duduk berhadapan.
“Anu Bunda. Ehm… Bunda tahu Erli kan?” Ah, basa-basi! Aku merutuk kalimatku sendiri di dalam hati.
“Erli yang Bunda kenal cuma Erli, gadis manis dan sopan yang tinggal di depan rumah kita itu. Erli yang itu maksudmu, Nak?”
“Iya. Erli yang itu.”
“Memangnya kenapa, Nak?” Bunda bertanya dengan alis berkerut dan sedikit ekspresi menggodaku.
“Putra mau minta tolong Bunda untuk, ehm… anu…”
“Anu apa?” bunda semakin menggodaku. Sepertinya dia memang sudah mengetahui maksud hatiku. Ugh, jadi merah malu muka ini.
“Untuk melamarnya Bunda.”
Bunda masih pura-pura tak mengerti, akhirnya kupertegas lagi.
“Iya Bunda. Putra ingin melamar Erli.” Ugh! Plong sekali rasanya setelah kata terakhir itu terucapkan.
“Bunda nggak salah dengar kan?” Bunda terlihat sangat bahagia.
“Wah, anak Bunda sekarang sudah niat untuk menikah. Alhamdulillah.”
Bunda mendekat lalu memelukku. Senyumnya begitu indah dan ceria.
“Tentu saja Bunda mau anakku. Bunda sangat lega dan sangat bahagia mendengarnya. Erli memang gadis yang baik. Bunda sering ngobrol dengannya setiap kamu tidak ada di rumah. Sejak awal bertemu dia, Bunda memang berharap kamu mau melamarnya untuk Bunda. Bunda selalu menunggu kata itu terlontar sendiri dari mulutmu. Bunda nggak mau lagi menjodohkanmu, karena yang akan menjalaninya kan kamu. Dan alhamdulillah hari ini harapan Bunda terwujud.”
Aku hanya tersipu malu. Keinginan bunda akhirnya akan segera terwujud. Kami sepakat akan melamar Erli April mendatang. Sebenarnya bagiku lebih cepat lebih baik, tapi bunda ingin kesanggupan Erli nantinya akan menjadi kado terindah di ulang tahunku yang ke 27 nanti. Semoga.

***April 2003
Penantian selama 3 bulan terasa begitu panjang. Sehari terasa sebulan, sebulan terasa setahun, dan tiga bulan penantian ini terasa 3 tahun. Erli, hari ini aku akan bertatap langsung dengan paras indahmu, jauh lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Akhirnya, rasa yang terpendam selama setahun terakhir akan terkuak juga, tepat di hari ulang tahunku yang ke-27, yaitu 5 April mendatang. Erli, kau akan segera tahu bahwa Putra, lelaki yang selama ini selalu membuatmu risih karena selalu berusaha ingin sedikit lebih dekat denganmu sangat mengagumimu sebagai ciptaan Allah yang begitu indah, bunga tercantik di taman kompleks ini.
“Sudah siap?” Bunda mengejutkanku yang sedang duduk merenung di kursi ruang tamu. Aku menjawabnya dengan anggukan. Kamipun berjalan beriringan ke rumah bidadariku. Membawa sekeping hati yang penuh ketulusan, pengharapan dan permohonan atas ridha Allah, semoga engkau, bidadariku, bersedia melengkapi kepingan hati ini agar utuh dalam mahligai yang suci dan dipenuhi berkahNya.
“Assalamualaikum,” bunda mengucap salam tanpa mengetuk, saat kami tiba di depan pintu rumah Erli. Sepi, tak ada jawaban.
“Assalamualaikum,” bunda mengucap salam untuk kedua kalinya. Wajah ibu Erli lalu muncul di balik daun pintu. Ia tampak sedikit terkejut. Ia sedikit memperbaiki jilbabnya dan mempersilahkan kami duduk.
“Wah, rapi sekali Bu Anggraeni sama De Putra. Mau ke mana nih?”
“Ah, nggak ke mana-mana kok Bu. Cuma mau silaturrahim ke rumah Ibu Latifah aja.”
“Oh.”
“Oh ya, Erlinya mana Bu?”
“Dia di dalam. ”
“Bisa minta tolong dipanggilkan? Kedatangan kami ke sini juga ada hubungannya dengan Erli.”
Sedikit kaget, ragu dan bingung, Bu Latifah mengiyakan permintaan Bunda. Baru saja Bu Latifah hendak beranjak dari tempat duduknya, Erli keluar dengan nampan teh.
“Nih dia anaknya. Baru saja mau dipanggil. Duduk sini, Nak.”
Ibu Latifah menyuruh Erli duduk di sampingnya. Gadis itu menurut dengan malu-malu, tetap menunduk seperti biasanya.
“Silahkan diminum Bu, Nak Putra.”
Bunda menyeruput tehnya, dan aku mengikuti. Agar tidak terlihat terlalu kaku. Ibu menarik nafas sejenak, lalu mulai membicarakan tujuan utama.
Bla… Bla… Bla…
Butuh basa-basi yang cukup panjang hingga akhirnya bunda melontarkan pokok pembicaraan yang sejak tadi kuharapkan.
“Maukah Nak Erli menerima pinangan kami?”
baik Erli maupun Bu Latifah hanya diam. Mereka saling pandang dengan ekspresi saling tanya, sepertinya menggunakan bahasa isyarat yang sama sekali tak kami mengerti. Akhirnya, Bu Latifah angkat bicara dan Erli tetap diam seribu bahasa.
“Suatu kehormatan bagi keluarga kami atas pinangan ini. Saya maupun Erli sangat terkejut. Untuk saat ini, Erli memang belum menjadi milik siapapun. “ Ibu Erli diam sebentar untuk mengambil nafas, kemudian melanjutkan. “Akan tetapi, akan segera menjadi milik orang, insyaallah. Sayang sekali Bu Anggraeni, dengan berat hati harus saya katakan bahwa kami telah menerima pinangan Nak Rahman, sepupu Erli. Dia anak dari kakak misan saya yang di Yogyakarta. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
Bla… Bla… Bla…
Ibu Erli terus melanjutkan penolakannya dengan basa-basi. Giliran aku dan bunda yang menjadi pendengar setia. Hatiku hancur, kecewa, teramat pedih. Bundapun tampaknya merasakan hal yang sama. Setelah berbasa-basi dan mengucapkan selamat kepada Erli yang saat ini tentu saja sedang berbahagia menunggu walimahannya, aku dan bunda mohon pamit. Membawa hati yang luka ke istana yang telah disiapkan untuk calon bidadari, Erli, yang kini telah memilih istana yang lain.
Sampai di rumah, bunda hanya mengatakan agar aku sabar. Selebihnya, ia hanya diam. Mungkin tak ingin terlalu membicarakannya karena tahu bahwa aku akan semakin terluka. Ya, begitulah bunda. Ibu terbaik yang sangat kusanjung dan kukasihi.
Ternyata penantian sang Putra masih belum berakhir. Bunga tercantik yang tumbuh di depan rumah telah dipetik orang dan akan segera diboyong jauh meninggalkanku kembali tersudut dalam penantian dan kesendirian. Aku hanya bisa bersabar. Ini ujian dariNya. Ia telah menunjukkan bahwa Erli bukan yang terbaik untukku, meski begitu dalam aku mendamba dan begitu besar asa membuncah. Rasa terluka itu pasti ada. Terasa ada yang hilang. Kesendirian kembali menyergap masuk dalam bayang-bayang masa lajang ini. Seuntai cinta telah pergi meninggalkan kenangan. Tinggal sebuah nama yang mencabik persendian terakhir dari sebuah angan-angan yang harus segera dihapus. Bidadari depan rumah, semoga Allah menggantimu dengan yang lebih baik. Amin…

***Catatan Seorang Sahabat “Desi Luthfiana”

5 thoughts on “Cerpen “Bidadari Depan Rumah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s