Cerpen “Gadis Kecil yang Tengah Mengeja Bahagia”

Aku mengenal seorang gadis kecil bernama Tati. Ia baru berumur 9 tahun. Namun, dalam umur yang masih begitu belia, ia harus hidup tanpa ayah, di rumah yang hanya berukuran 4 x 6 meter, bersama seorang ibu yang sangat kuat menjalani kehidupannya dan seorang kakak perempuan dengan keadaan mental yang terbelakang. Tati, tetangga kecilku, menjalani harinya dengan mata yang selalu memancarkan harapan. Aku sangat betah memandang mata gadis kecil itu. Matanya penuh semangat meskipun ayahnya tak kunjung memberi kabar sejak keberangkatannya ke luar negeri untuk mengais rezeki 7 tahun silam. Oh ya, aku ingat, ayah Tati pernah pulang sekali, saat Tati berumur 6 tahun. Namun hanya satu minggu. Cukup bagi Tati untuk sekedar mengetahui seperti apa sosok ayahnya yang sampai sekarang belum juga mengirimkan kabar, apalagi uang. Dia meninggalkan keluarga kecilnya dengan sebuah janji,
“Setiap Tati ulang tahun, ayah pasti ngirimin kado.”
Jadilah setiap bilangan umurnya bertambah, pagi-pagi sekali, Tati pasti akan menemuiku untuk meminta hadiah, sekaligus menanyakan, adakah kiriman kado yang datang dari Arab Saudi untuknya. Kasihan gadis malang itu. Ibunya saja sudah pasrah. Baginya, suaminya masih hidup ataukah sudah meninggal, sama saja. Toh suaminya memang tak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia masih memperdulikan keluarganya di sini. Bu Latifah – ibu Tati, hanya bisa berserah diri kepada Allah. Selebihnya, menjalani sisa umur, mengasuh amanah yang Allah titipkan padanya dengan kepingan hati yang hancur namun tetap berpendar oleh cahaya iman di dada.
Aku dan Tati sangat akrab. Ia lebih sering di rumahku dibandingkan di rumahnya sendiri.
“Di rumah bau. Mbak Ita ngompol di sana-sini,” itulah pengakuan polosnya setiap aku tanyakan mengapa dia malas sekali pulang meski ibunya selalu berteriak memanggilnya untuk pulang. Rumah mungilnya memang menjadi ruang multi guna. Di bagian depan digunakan ibunya untuk membuka warung kecil-kecilan. Antara ruangan untuk warung dengan tempat tidur, disekat oleh gorden tipis. Di ruang yang dijadikan tempat tidur itu, ada sebuah lemari robok dan ranjang yang sudah lapuk dimakan usia.
Siang itu, saat makan siang, Tati main lagi ke rumahku.
“ Ti, makan yuk! Ada tongkol, perkedel, sayur asem, sama kerupuk nih. “
“Wah, enak, tapi Tati udah kenyang.”
“Oh, udah makan toh. Lauknya apa Ti?”
“Seperti biasa, cuma pakai air terus taburin garem deh.”

Glek! Tenggorokanku tercekat mendengarnya. Ya Allah, alangkah zalimnya diri ini. Aku makan enak begini sementara tetangga di depan rumahku makan hanya dengan taburan garam dan kuah air putih. Selera makanku menjadi hilang. Rasa sedih mendera membuat rasa laparku pupus seketika. Aku lalu mengambil mangkuk dan piring. Kutumpahkan lauk dari panci secukupnya dan ku minta Tati membawanya ke rumahnya. Tati menerimanya dengan mata berbinar.
“Wah, makasih Mbak, banyak banget!”
Aku hanya tersenyum penuh getir melihat binar mata gadis kecil itu. Sampai masuk ke rumahnya, ia bernyanyi riang dan memanggil ibunya dengan suara yang sangat keras. Ya Allah, bahagianya melihat keriangannya.

***
Malam ini aku khusyuk latihan menjawab soal-soal matematika. Karena asyiknya, aku tak meyadari kehadiran Tati di sampingku. Ia menyenggolku berkali-kali baru aku menoleh padanya.
“Mbak Lily, Mbak Lily, “ ku tangkap dia memanggil namaku berkali-kali.
“Eh Tati, tumben kelihatan.”
“Tati tiap hari kok main ke sini, tapi Mbak Lily nggak pernah keluar kamar. Tati mau cerita, makanya Tati minta izin sama Wak Saleh buat masuk kamar Mbak Lily. Boleh kan?”
“Boleh kok. Mau cerita apa?”

“Tadi siang Tati mimpi ketemu ayah. Tati digendong di punggung ayah sambil keliling pasar. Pasarnya guedeeee banget, terus bertingkat sama pake’ tangga yang jalan-jalan. Tati dibeliin es krim, jeruk, boneka, pokoknya banyak deh.” Tati terus berceloteh. Aku menghargainya. Tak apa-apalah malam ini tidak belajar dulu, demi Tati. Kasihan dia. Dia bercerita dengan sangat antusias, seolah hal itu benar-benar terjadi.
“Wah, mudah-mudahan ayahnya Tati beneran pulang ya. Kalau beliau pulang, Tati mau minta apa?”
“Banyak deh pokoknya.”
“Mbak Lily boleh tahu nggak? Yang pertama Tati mau minta apa?”
“Tati minta dibikinin kamar.”
“Lho, kok kamar?”
“Iya, soalnya kamar Tati kan gabung sama Mbak Ita. Bau! Tati mau punya kamar kayak Mabak Lily. Harum, besar, terus bonekanya banyak.”
Tati berceloteh sambil memandang seantro kamarku. Aku benar-benar getir dibuatnya. Permintaan yang sederhana namun menusuk.
“Tati mau boneka?”
“Mau.”
“Tati boleh ambil boneka Mbak Lily satu. Pilih aja mana yang Tati mau.”
“Wah, beneran ni Mbak Lily?”
“Iya, pilih aja.”

Tati lalu berjalan ke tempat tidurku dan memeluk bonekaku satu per satu. Dia lalu menunjuk satu boneka anjing berwarna kream campur coklat. Boneka paling besar yang merupakan hadiah dari sahabatku, Feny. Ku anggukkan kepala padanya meski berat rasanya melepas boneka itu. Apalah artinya boneka itu dibandingkan sedikit kebahagiaan yang bisa aku bagi untuk gadis malang ini.
“Nggak apa-apa nih Mbak?”
“Ambil aja. Biar ada yang Tati peluk kalau lagi tidur.”
“Tapi Tati titip di sini saja nggih. Tunggu sampai mamiq pulang dan kamar Tati jadi, baru Tati ambil. Soalnya kamar Tati yang sekarang tuh bau dan berantakan. Ntar bonekanya jadi lecek.”
“Terserah Tati aja.”

Malam itu kuminta Tati menginap agar dia bisa memeluk langsung boneka barunya. Dia sangat bahagia dan banyak bercerita tentang pelajarannya di sekolah, teman-teman sekolahnya, tentang ibunya yang kini sudah bekerja sebagai tukang cuci di rumah Bu Syukur, tentang harapan-harapannya, sampai ia tertidur lelap.
Hal yang selalu membuatku semakin sayang padanya adalah, dia tidak pernah melupakan solat fardu meskipun ia baru berumur 9 tahun. Ia tak pernah absen sekali pun mengaji di tempat Ustaz Rahim. Sebelum tidur dia selalu minta diantarkan untuk berwudhu.
“Kata ibu, biar Tati nggak diganggu syetan dalam tidur. Terus, kalau Tati wudhu sebelum tidur, permintaan Tati untuk mimpi ketemu sama ayah bisa dikabulkan Allah.” Itulah pengakuan polosnya saat kutanyakan alasannya.
Tati, gadis kecilku yang malang. Sebentar lagi, setelah ujian akhirku selesai dan aku dinyatakan lulus, aku akan meninggalkannya untuk melanjutkan studiku ke luar kota, ke Bandung. Lamaran PMJK-ku sudah diterima dan aku tinggal melakukan daftar ulang.

***
Alhamdulillah. Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku menempati peringkat 2 umum lulusan terbaik se-kabupaten. Kerja kerasku membuahkan hasil gemilang. Allah memang Mahaadil. Saat sampai di rumah, aku melihat Tati sedang duduk di teras rumahku. Saat melihat kedatanganku, dia langsung menghambur padaku.
“Mbak Lily lulus kan? Pasti lulus. Mbak Lily kan jago.”
“Iya, alhamdulillah lulus.”
“Wah, hebat! Besok Tati mau kayak Mbak Lily ya.”
“Harus!”
“Oh ya, Tati punya kado lho buat Mbak Lily.”
“Kado apaan tuh?”

Tati lalu mengulurkan sebuah bungkusan dari kertas koran. Bungkusan yang dibungkus seadanya. Aku yakin Tati membungkusnya sendiri. Bentuknya tak beraturan.
“Boleh dibuka langsung nggak?”
“Boleh. Tapi Tati malu. Kadonya jelek.”

Aku lalu membukanya dan isinya adalah sebuah bross yang sudah sangat kusam. Entahlah darimana Tati mendapatkan barang itu. Aku menahan haru melihat ketulusan anak itu. Aku berusaha tersenyum dan terlihat begitu bahagia dengan pemberiannya.
“Wah, brossnya bagus. Makasih ya.”
“Brossnya dipake besok kalo’ ke sekolah barunya ya. Tati mau dong ke sekolahnya Mbak Lily. Boleh?”
“Sekolah Mbak Lily yang baru itu jauh Ti. Harus pake’ kapal terbang. “
“Wah, Tati mau dong naik kapal terbang. Bisa nembus awan ya?”

Aku tak kuasa membendung kesedihan yang mendera-dera dalam hati. Aku pasti akan merindukan gadis kecil ini. Aku menarik tangannya dan mengajaknya ke kamarku. Kami meghabiskan hari itu bersama.

***
Sudah setahun aku tak pernah pulang. Kesibukan akademik dan organisasi di kampus tak menyisakan waktu untuk berlibur di kampung halaman. Bagaimana kabar Tati sekarang? Kabar terakhir yang aku dengar tentang gadis kecil itu dari ibu adalah, ayahnya pulang dari luar negeri, namun hanya satu bulan. Setelah itu, pergi lagi. Kasihan Tati. Dia pasti sangat sedih.
Saat kakiku menginjak jalan raya di depan rumah, aku melihat rumah Tati kini berubah menjadi kios besar yang masih dalam proses pembangunan. Aku bahagia melihatnya. Ini berarti ada peningkatan bagi kehidupan Tati. Dia akan punya kamar sendiri, seperti yang selalu ia harapkan. Aku tak sabar ingin berjumpa dengannya. Namun, mana anak itu? Mengapa dia tidak menyambut kedatanganku? Aku juga tidak melihat Ita dan Bu Latifah. Saat melewati rumahnya tadi, hanya ada para tukang dan beberapa ibu yang mungkin sebagai juru masak bagi para tukang tersebut. Aku bergegas ke rumah dan menaruh barang-barang di kamar lalu bergegas menemui ibu.
“Bu, Tati sama Bi Latifah kok nggak kelihatan? Apa mereka tinggal di tempat lain selama kios itu belum jadi?”
“Mereka sudah pindah Ly.”
“Pindah?! Pindah gimana maksud ibu? Pindah sementara waktu menunggu kios mereka jadi?
“Kios yang mana maksud kamu?”
Ibu terlihat heran, aku malah lebih heran lagi. Ibu kok nggak nyambung gini sih.
“Ya kios yang di depan itu Bu.”
“Itu bukan kiosnya Bu Latifah. Beliau sudah menjualnya pada orang.”
“Lho, terus sekarang Bu Latifah sama anak-anaknya pindah ke mana?”
“Bu Latifah ikut berangkat ke Arab Saudi sama suaminya.”
“Terus Tati sama Ita di mana dong? Siapa yang ngurusi?”
“Mereka dititip di rumah neneknya.”
“Di mana Bu?”
“Wah, Ibu ndak tahu Ly. Ibu sama ayah kemarin kan ada study banding di Yogya selama 2 minggu, terus pas balik ke sini ternyata mereka udah pindah sejak 3 minggu sebelumnya.”
“Berarti seminggu sebelum ibu sama ayah berangkat mereka masih di sini dong. Kok ibu nggak tahu sih?”
“Kita sibuk persiapan sayang. Ada banyak pengarahan dari sekolah sebelum kami berangkat. Kami nggak pernah memperhatikan. Lagipula selama 3 hari sebelum berangkat kami menginap di Mataram untuk pengarahan dulu. Ini kan study banding yang nggak biasa. Kami kan perwakilan provinsi.”
“Terus ibu nggak pernah nanyain sama tetangga yang lain?”

“Nggak ada yang tahu Ly. Kamu tahu sendiri, yang dekat sama keluarga Bi Latifah kan cuma kita.”
Aku tak tahu harus berkata apa. Ke mana harus mencari Tati? Di mana gadis kecilku berada? Boneka pemberianku belum juga sempat ia bawa dan letakkan di kamarnya. Entah kapan lagi aku akan bertemu Tati. Rumahnya di sini sudah dijual. Itu berarti dia tak kan kembali ke sini lagi. Ku pandangi lekat-lekat bross bermotif mawar pemberian Tati. Semoga saat ini mata Tati masih bercahaya dengan semangat dan harapan, di manapun ia berada. Allah, jagalah Tatiku.

Catatan seorang sahabat “Desi Luthfiana”

5 thoughts on “Cerpen “Gadis Kecil yang Tengah Mengeja Bahagia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s