Cerpen “Takkan Berakhir”

Aku kehilangan….
Sosok sahabat yang mampu membawaku memetik harapan di kilauan bintang-gemintang telah pergi dan tak kan kembali. Aku bertanya pada matahari pagi, ke mana sahabatku? Aku juga mencoba mencari jejak nafasnya di tetes embun pagi. Namun, aku tetap tak mendapatkan jawaban apa-apa. Aku kehilangan. Ia yang baru kemarin masih tersenyum padaku telah pergi membawa sisa kenangan. Anti, sahabatku yang periang, sehari tanpa kehadiranmu menggores siluet luka dan kesunyian di tiap detak jantungku. Anti, mengapa kau harus pergi tanpa pamit?
Anti selalu membagi hari-harinya yang ceria bersamaku. Ia selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Ia menerimaku sebagai sahabat dengan segala kekurangan yang aku miliki. Bersamanya aku tenang. Bersamanya aku merasa berarti. Cukup hanya dengan bersamanya, aku merasa tak butuh sahabat yang lain.
Aku baru saja menerima kenyataan terpahit. Kenyataan itu berbicara di sela kehangatan persahabatanku dengan Anti. Dia masih begitu muda. Umurnya sebaya denganku. Kami baru menginjak 17 tahun. Namun, sebelum tiba hari ulang tahunnya yang tinggal satu minggu lagi, Allah memanggilnya. Aku pun terkapar dalam kesendirian. Merajuti sisa mimpi yang dulu pernah kubangun bersama Anti. Bimbang nan gelisah menyelimuti. Sebab, ada satu pesan yang belum sempat Anti ucapkan.

***
Pagi itu tampak mendung. Sepertinya awan sedang murung dan merenung. Tak seperti biasanya, ada yang mengganjal di hatiku. Pucuk-pucuk anggrek di pekarangan juga sepertinya hendak menyampaikan sebuah berita. Entah mengapa, begitu berat rasanya meninggalkan Anti yang tergeletak sakit, lemah tak berdaya, di ranjang rumah sakit. Sempat kuurungkan niat ke Jakarta. Sebab kurasa, aku masih punya kesempatan ikut porseni tahun depan. Namun, Anti tetap teguh pada pendiriannya : aku harus tetap ikut pertandingan dan membawa gelar juara demi kesembuhannya dan sekaligus kado di swetseventheen-nya. Akhirnya, dengan begitu berat aku berangkat ke Jakarta.
Baru saja merebahkan tubuh di hotel, Hp-ku berdering. Alangkah bahagia melihat nama Anti berkedip-kedip di layar Hp. Pikirku, Anti pasti ingin menanyakan, aku telah sampai atau belum. Selama di perjalanan, aku tak sempat mengabarinya.
“Assalamualaikum. Aku udah nyampe’ An.”
“Ini bukan Anti Nak Ike, ini ibunya Anti.”
“Oh, Bik Endang. Gimana keadaan Anti Bik?”
“Sabar ya Nak. Anti sudah pergi.”
Ya Allah! Rasanya gelap, pekat! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Leukimia yang menggerogoti tubuh kurusnya tak mengizinkanku mengucapkan salam perpisahan sebelum keberangkatannya bersama Izrail. Ya Allah! Antiku pergi. Antiku Kau panggil tanpa memberiku kesempatan menyaksikan senyum syahdunya untuk yang terakhir kali.
Kini aku berdiri di onggokan tanah merah yang masih basah. Kini aku melihat dengan sangat jelas, sebuah nama terukir pada nisan yang berdiri di atas gundukan tanah merah itu : Mardianti Andini. Ya Allah! Aku masih tak percaya akan hal ini. Anti tertidur sendiri dalam kubur yang gelap. Hanya berteman jangkrik dan para malaikat penjaga kubur. Dan aku, sahabatnya, tak dapat lagi menemani kesendiriannya seperti hari-hari sebelumnya. Kami kini terpecah belah oleh guratan takdir. Kematian mengakhiri kebersamaan yang dulu begitu indah.

***
Aku masih memikirkan satu pesan terakhir Anti yang belum sempat ia katakan langsung. Ibunya mengatakan bahwa Anti menitipkan sebuah pesan untukku. Karena waktu itu aku berada di Jakarta, Anti merekam pesannya lewat kaset. Hanya saja, kaset itu dititip pada seorang perawat yang keberadaannya tak dapat kuketahui hingga detik ini. Aku sudah berkali-kali, bahkan hampir setiap hari ke rumah sakit Islam Mataram, tapi perawat itu raib. Seolah ditelan bumi dan terkubur bersama Anti. Pesan apa yang Anti sampaikan? Mengapa dititipkan pada seorang perawat, bukan pada ibunya?
Pesan itu. Sebuah misteri yang begitu mengganggu pikiranku. Kami bersahabat sejak kelas 1 SMP. Kini, hampir 6 tahun persahabatan kami, Anti pergi membawa kegetiran dan meninggalkan misteri. Mungkinkah pesan itu sebuah rahasia besar? Hingga begitu rapat Anti menyembunyikannya. Bahkan, ibu kandungnya sendiri tak hendak ia ceritakan. Tak cukupkah waktu bersama 6 tahun untuk membuat Anti mempercayaiku sepenuhnya? Pesan misterius itu membuatku merasa bahwa Anti menyembunyikan sesuatu selama ini. Aku merasa ia tak siap berbagi denganku kecuali di akhir hayatnya. Ya Allah, ke mana aku harus mencari perawat itu?
Perawat itu pergi tak meninggalkan jejak. Mengapa ia harus pergi meninggalkan amanah dari orang yang baru saja meningggal? Siapa perawat itu sebenarnya? Mengapa Anti begitu berani menyerahkan rekaman pesan itu kepada orang yang tak ia kenal? Mengapa ia lebih memilih menitipkannya kepada wanita asing, bukan kepada ibu kandung yang selama ini selalu menjaga dan merawat tubuh lemahnya? Ya Allah, hanya kepadaMu kuserahkan segalanya. Aku pasrah. Jika aku memang tak Kau izinkan bertemu dengan perawat misterius itu dan tak boleh mendengar pesan terakhir Anti, aku ikhlas.

***
Seminggu sejak kepergian Anti. Aku kembali merasa Antiku begitu asing. Mengingat pesan misterius itu, menyadarkanku bahwa Anti memang belum mempercayaiku sepenuhnya sebagai sahabatnya. Buktinya, hanya di saat terakhir kebersamaan kami baru ia sadar bahwa pesan itu harus ia sampaikan. Kenapa kau setega itu sahabat?! Astagfirullah!!! Semoga ini hanya pikiran buruk dan salah sangka semata. Begitu tega diri ini menuduh sahabatnya yang telah meninggal. Ya Allah, ampuni aku. Anti, maafkan sahabatmu ini.
Kepergian Anti mengajarkanku banyak hal. Mengingatkan aku bahwa aku juga makhluk bernyawa yang pasti akan kembali kepada siapa yang menciptakanku. Kepergian Anti untuk selamanya menyadarkanku bahwa hidup hanya sekali. Terlalu bodoh menyia-nyiakan sebuah persahabatan dalam jatah usia dan kontrak hidup yang tak tentu. Terlalu naif mengatakan bahwa dalam hidup tak butuh sahabat. Baru sekarang aku benar-benar merasakan bahwa hidup memang harus diisi dengan persahabatan, walaupun hanya seorang sahabat. Meski hanya sebuah persahabatan selama hidup. Manisnya akan selalu menjadi kenangan terindah. Pahitnya akan menjadi pelajaran berharga. Namun, perginya meninggalkan duka yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi seorang diri, seperti yang kurasakan sejak kepergian Anti.
Pesan itu, misteri itu. Sampai kapan harus terus aku telusuri? Haruskah aku terus mencari jejaknya seperti anak ayam kehilangan induknya? Terlalu sulit rasanya menguak misteri ini. Aku tak punya alamat perawat itu atau petunjuk lainnya. Semuanya begitu aneh. Tak ada seorangpun di rumah sakit tempat Anti dirawat, mengenal seorang suster bernama Desy. Padahal, Bik Endang bilang, Anti menitipkan kaset rekaman itu pada seorang perawat yang selalu dipanggil suster Desy. Siapa perawat itu sebenarnya? Oh Anti, mengapa semua berakhir seperti ini?

***
Sebulan semenjak kepergian Anti. Hampir dalam keputusasaan, aku terus mencari di mana pesan Anti tersembunyi. Walau tanpa petunjuk. Aku mencari ke manapun aku bisa. Sampai akhirnya pagi ini, aku dikejutkan oleh plastik hitam yang tergeletak di depan pintu rumah. Dan saat ku buka, sebuah kaset dengan secarik kertas bertuliskan huruf-huruf yang berjajar rapi yang ku kenal sebagai tulisan Anti kutemukan dalam plastik hitam itu. Walaupun penuh keraguan, akhirnya ku putar juga kaset itu. Dan ternyata benar, suaramu menyambut keputusasaanku, Anti.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh.”
Ike sahabatku, maafkan aku karena sengaja menyuruh orang tempat aku menitip pesan ini untuk menghilang setelah kepergianku, membawa kaset rekaman ini untuk kemudian diberikan kepadamu sebulan setelah aku pergi. Aku sengaja melakukannya. Bukan bermaksud membuatmu bimbang dan gelisah dengan rasa penasaran yang kian memuncak. Aku ingin kau dalam keadaan lebih tenang, setelah sedih yang berlarut karena kepergianku, agar kau tak terlalu terguncang mendengar rahasia besar yang berhasil ku simpan semasa hidupku, termasuk selama 6 tahun bersahabat denganmu.
Suster Desy hanyalah nama samaran dari orang yang membawa kaset ini. Nama yang sebenarnya adalah Emi. Dia memang benar seorang perawat, tapi tidak bekerja di rumah sakit tempat aku dirawat. Dia mungkin orang yang diutus Allah sebagai ladang curhatku dan sandaran bagi derita yang kurasakan. Aku secara tak sengaja bertemu dengannya di tempat praktik seorang psikolog. Ternyata dia pernah merasakan apa yang pernah aku rasakan. Namun, hidayah telah lebih dulu menghampirinya lewat seorang lelaki yang kini menjadi suaminya dan memberinya 2 orang anak. Percayalah, dia adalah satu dari 2 sahabat terbaik yang kumiliki, tentu saja selain dirimu, Ike.
Ke, damai dan merasa berarti. Itulah yang kurasakan selama bersahabat denganmu. Kau tulus bersahabat dengan Anti yang penyakitan ini. Kau menyayangiku seperti seorang ibu menyayangi anaknya, dan sekaligus seperti seorang kakak menyayangi adiknya. Bersahabat denganmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa ingin hidup lebih dari batas waktu yang begitu sedikit diberikan oleh-Nya lewat leukimia ini.
Aku menyayangimu, bahkan sangat menyayangimu dan begitu takut kehilanganmu. Maafkan aku jika pergi meninggalkanmu lebih dulu. Apa mau dikata sahabat, Allah menunjukkan inilah yang terbaik. Dan kuharap, kau ikhlas menerimanya. Hari-hariku penuh dengan tekanan, sahabat. Sebab, aku harus selalu berpura-pura agar rahasia ini tak kau ketahui dan agar kau tak curiga bahwa aku menyembunyikan sesuatu.
Ike sahabatku, engkau selama ini tak menyadari bahwa Anti, sahabat yang sangat kau sayangi begitu jahat padamu. Mengapa aku berkata begitu? Sebab, selama ini aku menyayangimu layaknya seorang laki-laki menyayangi perempuan. Ya, aku mengalami kelainan sobat….”

Tape ku matikan. Deg! Betapa terkejutnya aku dengan pernyataan Anti. Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Pasti ada kesalahan dengan pendengaranku. Untuk memastikannya, kaset itu kuputar ulang sedikit bagian terakhirnya.

“…Engkau selama ini tak menyadari bahwa Anti, sahabat yang sangat kau sayangi begitu jahat padamu. Mengapa aku berkata begitu? Sebab, selama ini aku menyayangimu layaknya seorang laki-laki menyayangi perempuan. Ya, aku mengalami kelainan sobat. Jiwaku sakit. Aku memang biadab! Tak ada bedanya dengan kaum Nabi Luth.
Inilah rahasia yang begitu rapat ku simpan. Namun, alangkah tidak bijaksananya jika sampai ajalku menjelang, aku tak membagi duka ini denganmu. Aku meratapi jiwaku yang sakit sobat. Namun, kau harus percaya, aku selalu bertekad dan berusaha keras untuk sembuh meski teramat sulit. Ibu tak pernah tahu bahwa anak gadisnya mengalami penyakit seperti ini. Oleh karena itu, aku berkonsultasi pada seorang psikolog secara diam-diam. Untuk itu, kumohon dengan sangat, jangan sampai beliau tahu. Kau tahu kan, ibuku punya penyakit jantung. Alangkah kejam orang yang membunuhnya dengan membeberkan rahasia ini. Hanya ini yang ingin kusampaikan. Aku sangat lega di sana jika kau menyingkirkan kaset ini setelah mendengarnya. Semoga Allah mempertemukan kita di syurga-Nya. Amin.”

Anti, alangkah berduka tiap hari yang kau lalui dengan tekanan dan guncangan batin yang begitu dahsyat. Dan aku bukanlah sahabat yang baik bagimu karena tak dapat menolongmu sampai ajal menjelang. Antiku malang. Bagaimanapun engkau, aku tak kan pernah menganggapmu sebagai seorang Anti yang mempunyai kelainan atau sakit jiwa. Biarlah hal itu menjadi satu noda hitam di atas telaga kasih dan kebeningan hatimu yang suci. Biarkan semuanya menjadi memori yang terkubur bersama jasadmu. Aku akan tetap menyayangimu sebagai Antiku yang periang dan selalu tabah menjalani hidup penuh luka fisik dan mental. Tak akan pernah kuingat rahasia ini. Akan kuanggap sebagai semiliran kecil angin sore yng berdesing sebentar kemudian lenyap tak berbekas. Persahabatan kita tak kan pernah berakhir seperti detak jantung, denyut nadi, dan irama nafasmu yang kini terhenti.

Catatan Seorang sahabat “Desi Luthfiana

9 thoughts on “Cerpen “Takkan Berakhir”

  1. tina says:

    pertama baca ceritanya biasa ja Sech v setelah membaca semuax aku kagum dan pingin memiliki shabat sperti Anti dan Ike.

    Ketika membaca baigian Cerita saat Ike mendengarkan kaset Q sbg pembaca merasa merinding…………….

    cerpenx bgusssssssssssssssss bangetttttttttt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s